FKUB SULTENG

Berita Utama
Muhibbah Kerukunan di GPID Ebenhaezer, Prof. Zainal Abidin Temukan Harmoni dan Kerukunan di Desa Sumbersari

22 Dec 2025
safrudin 46 0

Muhibbah Kerukunan di GPID Ebenhaezer, Prof. Zainal Abidin Temukan Harmoni dan Kerukunan di Desa Sumbersari

PARIGI MOUTONG, FKUB SULTENG – Desa Sumbersari di Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, mencuri perhatian tokoh moderasi beragama nasional. Desa yang dikenal sebagai "laboratorium" keberagaman ini dinilai sukses mempraktikkan kehidupan harmonis meski dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang suku, budaya, dan agama yang sangat heterogen.

Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag, saat menggelar kegiatan Muhibbah Kerukunan ke Gereja GPID Ebenhaezer Sumbersari, Minggu 21 Desember 2025.

Dalam kunjungan tersebut, Prof. Zainal didampingi pengurus inti FKUB Sulteng, di antaranya Sekretaris Umum Dr. H. Muh Munif Godal, M.A, Wakil Sekretaris Agustinus Motoh, SH, serta jajaran pengurus lainnya.

Kedatangan mereka disambut hangat oleh Ketua Jemaat Gereja Ebenhaezer, I Made Suarta, bersama para jemaat setempat.

Prof. Zainal Abidin mengaku kagum dengan kedewasaan masyarakat Sumbersari dalam mengelola perbedaan.

Menurutnya, kerukunan di desa ini bukan sekadar wacana, melainkan sudah menjadi gaya hidup sehari-hari.

"Kerukunan yang kita rasakan di Sumbersari ini menggembirakan kita semua. Termasuk menggembirakan FKUB. Tugas FKUB adalah mewujudkan harmoni di tengah perbedaan agama, suku, dan perbedaan lainnya, dan Desa Sumbersari telah memberikan contoh nyata bagaimana menciptakan hal tersebut," ujar Prof. Zainal dengan nada bangga.

Ia bahkan menyebut Sumbersari layak menjadi percontohan bagi wilayah lain di Sulawesi Tengah, bahkan Indonesia, dalam hal saling menghormati dan menghargai antarsesama warga negara.

Secara khusus, Rais Syuriyah PBNU ini menyoroti nama dan arsitektur Gereja Ebenhaezer. Ia memaknai nama tersebut sebagai simbol syukur atas perdamaian yang terjaga.

"Sepengetahyan saya, Ebenhaezer itu artinya pertolongan Tuhan telah sampai di sini. Nama ini sangat relevan dengan kondisi sosial yang ada," tuturnya.

Keunikan lain yang disoroti adalah arsitektur gereja yang tidak seperti gereja pada umumnya, melainkan mengadopsi kearifan lokal (local wisdom).

Hal ini dinilai sebagai bukti bahwa jemaat Ebenhaezer sangat terbuka dan menghargai budaya masyarakat sekitar.

"Ini luar biasa, gereja mengikuti nilai-nilai dan budaya masyarakat setempat. Inilah praktik toleransi yang sangat tinggi," tambah Guru Besar UIN Datokarama Palu tersebut.

Di hadapan para jemaat, Prof. Zainal mengingatkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang tidak mungkin dihindari.

Bahkan di dalam internal satu agama pun, perbedaan mazhab dan pandangan adalah hal yang lumrah.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk berhenti menonjolkan perbedaan teologis dan mulai fokus pada persamaan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh semua agama.

"Secara teologi kita bisa berbeda. Secara akidah kita berbeda. Islam berbeda dengan Kristen. Kristen berbeda dengan Hindu, Budha, Katolik dan lainnya. Semua bisa berbeda. Secara keyakinan kita berbeda. Cara kita beribadah, cara kita bertemu dengan Tuhan bisa berbeda. Mungkin saja kita berbeda-beda. Tapi setiap agama itu mengajarkan kasih. Setiap agama itu mengajarkan damai. Dan setiap agama itu menuntut kita untuk saling menghormati dan saling menghargai," pungkas Prof. Zainal menutup arahannya dalam suasana penuh kekeluargaan.

Kunjungan Muhibbah Kerukunan ini diharapkan semakin memperkokoh benteng moderasi beragama di tingkat akar rumput, sekaligus memastikan bahwa Sulawesi Tengah tetap menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi seluruh pemeluk agama.***